Hidup
di pesantren, harus sabar. Para santri itu ibarat masyarakat di sebuah Desa.
Bedanya hanya satu; ruang lingkupnya terbatas.
Hidup
di pesantren berarti belajar bermasyarakat. Latihan, agar kelak di lingkungan
masyarakat mudah berbaur dengan orang yang beragam sifat. Setidaknya, setiap
hari bertemu dengan orang yang bermacam-macam.
Belajar
sabar itu nggak ada batasnya. Kapanpun dan di manapun kesabaran selalu diuji.
Harus pula diimbangi dengan kedewaasaan diri. Kata pepatah, “Tua itu pasti.
Tapi, dewasa adalah pilihan.” Yang tua pun nggak selalu bersifat dewasa.
Harus
punya sifat kebal. Kebal dari omongan orang yang mungkin sering menyinggung
hati. Apa-apa kalau dimasukin hati itu nggak akan selesai-selesai. Harus bisa
nahan. Hidup bermasyarakat, menghadapi sifat orang yang beragam hanya akan
capek kalau sensitifan.
Juga,
bisa nahan buat nggak emosinan. Marah itu datangnya dari setan. Saat kita
marah, emosi, dan sejenisnya berati posisi kita sedang panas. Nggak bisa
sepenuhnya ngontrol omongan dan perbuatan. Bisa tanpa sengaja menyakiti hati
orang dengan omongan kita yang ceplas-ceplos. Atau perbuatan jahat yang terjadi
secara refleks. Kalau yang kena marah orang yang nggak salah? Itu yang bahaya...
Alampun
merekam setiap perbuatan baik dan buruk. Kalau bisa menghindari yang buruk ,
kenapa harus dilakukan? Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati?
Eheum... mengobati hati yang terluka itu bisa dibilang sulit sih. Apalagi buat
mereka yang susah lupa. Waduh! Kacau.
Cara
termudah menahan emosi atau marah adalah dengan diam. Tahan dulu... jangan
langsung marah-marah. Kalau udah rada tenang, baru deh diomongin baik-baik apa
yang menjadi pokok permasalahan.
Ada
masa di mana ocehan yang masuk ke telinga kanan kita, langsung dikeluarkan
melalui telinga kiri. Biar nggak turun ke hati, dan nggak bikin nyesek. Hehe.
Lalu, pura-pura jadi orang cuek, biar bisa terbiasa nggak perduli dengan ocehan
orang yang nggak penting.
Mungkin,
kalau udah masuk ke taraf nyesek yang pake banget... bisa nangis sepuas-puasnya
biar lega. Atau ngeluarin uneg-uneg lewat tulisan dan curhat ke orang lain
sampai plong.
Nggak
ada masalah yang nggak bisa diatasi. Karena, Allah tidak menguji hamba-Nya
kecuali apa yang ia mampu. Hidup ini singkat, jangan dipersingkat dengan
menyakiti orang lain. Woles wae lah...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar