Laman

Kamis, 07 April 2016

tentang Hidup di Pesantren


Hidup di pesantren, harus sabar. Para santri itu ibarat masyarakat di sebuah Desa. Bedanya hanya satu; ruang lingkupnya terbatas.
Hidup di pesantren berarti belajar bermasyarakat. Latihan, agar kelak di lingkungan masyarakat mudah berbaur dengan orang yang beragam sifat. Setidaknya, setiap hari bertemu dengan orang yang bermacam-macam.

Belajar sabar itu nggak ada batasnya. Kapanpun dan di manapun kesabaran selalu diuji. Harus pula diimbangi dengan kedewaasaan diri. Kata pepatah, “Tua itu pasti. Tapi, dewasa adalah pilihan.” Yang tua pun nggak selalu bersifat dewasa.

Harus punya sifat kebal. Kebal dari omongan orang yang mungkin sering menyinggung hati. Apa-apa kalau dimasukin hati itu nggak akan selesai-selesai. Harus bisa nahan. Hidup bermasyarakat, menghadapi sifat orang yang beragam hanya akan capek kalau sensitifan.

Juga, bisa nahan buat nggak emosinan. Marah itu datangnya dari setan. Saat kita marah, emosi, dan sejenisnya berati posisi kita sedang panas. Nggak bisa sepenuhnya ngontrol omongan dan perbuatan. Bisa tanpa sengaja menyakiti hati orang dengan omongan kita yang ceplas-ceplos. Atau perbuatan jahat yang terjadi secara refleks. Kalau yang kena marah orang yang nggak salah? Itu yang bahaya...

Alampun merekam setiap perbuatan baik dan buruk. Kalau bisa menghindari yang buruk , kenapa harus dilakukan? Bukankah mencegah lebih baik daripada mengobati? Eheum... mengobati hati yang terluka itu bisa dibilang sulit sih. Apalagi buat mereka yang susah lupa. Waduh! Kacau.

Cara termudah menahan emosi atau marah adalah dengan diam. Tahan dulu... jangan langsung marah-marah. Kalau udah rada tenang, baru deh diomongin baik-baik apa yang menjadi pokok permasalahan.

Ada masa di mana ocehan yang masuk ke telinga kanan kita, langsung dikeluarkan melalui telinga kiri. Biar nggak turun ke hati, dan nggak bikin nyesek. Hehe. Lalu, pura-pura jadi orang cuek, biar bisa terbiasa nggak perduli dengan ocehan orang yang nggak penting.

Mungkin, kalau udah masuk ke taraf nyesek yang pake banget... bisa nangis sepuas-puasnya biar lega. Atau ngeluarin uneg-uneg lewat tulisan dan curhat ke orang lain sampai plong.


Nggak ada masalah yang nggak bisa diatasi. Karena, Allah tidak menguji hamba-Nya kecuali apa yang ia mampu. Hidup ini singkat, jangan dipersingkat dengan menyakiti orang lain. Woles wae lah... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar